pontianaknews.web.id Bencana di Pontianak seolah tak memberi waktu bernapas. Ketika air laut akhirnya surut dan warga mulai membersihkan sisa banjir rob, ancaman baru perlahan muncul. Bukan lagi genangan yang merambat ke rumah-rumah, melainkan asap tipis yang menyusup tanpa suara, lalu menebal hingga menusuk paru-paru.
Kota ini seperti berganti wajah dalam waktu singkat. Dari air asin yang merendam lantai rumah, menuju udara pengap yang membuat dada terasa berat. Tanpa jeda, tanpa peringatan panjang. Warga kembali diuji dalam situasi yang berbeda, namun sama-sama melelahkan.
Udara Berubah, Napas Terasa Berat
Kabut asap mulai terasa sejak pagi hari. Awalnya hanya samar, seperti embun yang tertahan di udara. Namun menjelang siang, bau terbakar semakin jelas. Mata perih, tenggorokan kering, dan napas terasa pendek.
Bagi sebagian warga, kondisi ini bukan hal baru. Pontianak kerap menghadapi persoalan asap saat musim kering tiba. Namun kali ini terasa lebih berat karena datang tepat setelah warga kelelahan menghadapi banjir rob.
Tubuh belum pulih, lingkungan belum sepenuhnya bersih, tetapi krisis kembali datang.
Cerita Marini dari Pontianak Tenggara
Marini, perempuan berusia 26 tahun yang tinggal di Kecamatan Pontianak Tenggara, merasakan dampak paling nyata dari situasi ini. Selama beberapa hari terakhir, aktivitas rumah tangga berjalan tersendat.
Persediaan air bersih menipis. Air hujan yang sebelumnya ditampung sudah habis. Untuk mencuci pakaian, ia harus mengatur jadwal dua hari sekali. Sementara udara berdebu mulai masuk ke rumah melalui celah pintu dan jendela.
Pada malam hari, tidur menjadi perjuangan tersendiri. Udara panas bercampur bau asap membuat dada terasa sesak.
Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Aman
Bagi banyak warga, rumah seharusnya menjadi ruang perlindungan saat bencana datang. Namun dalam kondisi kabut asap, dinding dan atap seakan tak mampu menahan ancaman.
Asap menyelinap perlahan, menetap di dalam ruangan, membuat udara semakin pengap. Anak-anak mulai batuk, orang tua mengeluh pusing, dan sebagian warga memilih mengenakan masker meski berada di dalam rumah.
Kondisi ini menciptakan tekanan fisik sekaligus mental.
Dari Air ke Asap, Beban Berlapis
Peralihan dari banjir rob ke kabut asap terasa seperti ujian berlapis. Warga belum sempat memulihkan rumah, membersihkan lumpur, atau memperbaiki perabot yang rusak.
Kini mereka harus kembali beradaptasi dengan situasi baru yang sama beratnya. Aktivitas luar ruangan dibatasi. Anak-anak jarang bermain di luar. Pedagang mengeluhkan sepinya pembeli.
Kota seolah berjalan lambat, tertahan oleh udara yang tidak bersahabat.
Lingkungan Rentan dan Pola Berulang
Fenomena ini memperlihatkan kerentanan lingkungan perkotaan di Pontianak. Kota yang berada di wilayah dataran rendah dan gambut menghadapi risiko ganda setiap tahun.
Saat pasang tinggi datang, air rob menggenangi permukiman. Ketika kemarau tiba, lahan kering menjadi sumber asap.
Siklus ini terus berulang, menyisakan kelelahan bagi masyarakat yang harus terus bertahan.
Dampak Kesehatan Mulai Terasa
Kabut asap tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membawa ancaman kesehatan serius. Partikel halus di udara dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu gangguan pernapasan.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru menjadi yang paling terdampak. Keluhan batuk, sesak napas, dan iritasi mata mulai sering terdengar.
Warga berharap adanya langkah cepat untuk mencegah kondisi semakin memburuk.
Aktivitas Harian Terganggu
Sekolah, pekerjaan, hingga kegiatan sosial ikut terdampak. Banyak warga memilih membatasi aktivitas di luar rumah. Pedagang kecil mengaku pendapatan menurun karena pembeli enggan keluar.
Transportasi tetap berjalan, namun suasana kota terasa berbeda. Langit tampak buram, matahari terlihat redup, dan bau asap tercium hampir di setiap sudut.
Pontianak terasa sunyi dalam kepungan udara kotor.
Harapan Akan Penanganan Cepat
Di tengah kondisi ini, warga berharap adanya respons cepat dari berbagai pihak. Penanganan kebakaran lahan, pemantauan kualitas udara, serta distribusi masker menjadi kebutuhan mendesak.
Lebih dari itu, masyarakat berharap adanya solusi jangka panjang agar siklus bencana tidak terus terulang.
Masalah lingkungan dinilai tidak bisa ditangani secara parsial.
Ketahanan Warga yang Terus Diuji
Meski berada dalam tekanan, warga Pontianak tetap berusaha bertahan. Solidaritas antar tetangga terlihat dari saling berbagi air bersih dan informasi kondisi udara.
Kebersamaan menjadi kekuatan utama di tengah keterbatasan.
Namun, ketahanan masyarakat tentu memiliki batas. Tanpa dukungan kebijakan yang kuat, kelelahan kolektif bisa semakin dalam.
Kota yang Butuh Nafas Panjang
Pontianak bukan hanya membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga perencanaan lingkungan yang lebih menyeluruh. Pengelolaan lahan, sistem air, dan mitigasi asap harus berjalan beriringan.
Bencana tidak lagi bisa dipandang sebagai kejadian musiman biasa. Ia telah menjadi bagian dari realitas yang membutuhkan solusi serius.
Kota ini membutuhkan napas panjang untuk bertahan.
Penutup
Ketika air surut, asap datang. Begitulah wajah Pontianak hari-hari ini. Warga yang baru saja bangkit dari banjir rob kembali diuji oleh udara yang menyesakkan.
Di balik kabut tipis yang menyelimuti kota, tersimpan cerita tentang ketahanan, kelelahan, dan harapan. Harapan agar Pontianak suatu hari tidak lagi berpindah dari satu bencana ke bencana lain, melainkan menuju ruang hidup yang lebih aman, sehat, dan layak untuk bernapas.

Cek Juga Artikel Dari Platform liburanyuk.org
