pontianaknews.web.id Memasuki bulan Ramadhan, aktivitas penjualan takjil di berbagai sudut kota meningkat tajam. Mulai dari halaman masjid, pinggir jalan, hingga pusat jajanan musiman dipadati pedagang yang menawarkan aneka makanan berbuka puasa. Untuk memastikan keamanan pangan tetap terjaga, BBPOM Pontianak akan melakukan inspeksi di sejumlah lokasi penjualan takjil di Pontianak.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya preventif guna mengantisipasi beredarnya makanan yang tidak layak konsumsi. Ramadhan memang identik dengan lonjakan konsumsi makanan siap saji, terutama menjelang waktu berbuka. Kondisi ini kerap dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mengabaikan standar kebersihan dan keamanan pangan.
Fokus pada Keamanan dan Kelayakan Pangan
Inspeksi yang dilakukan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menyasar langsung kualitas produk yang dijual kepada masyarakat. Petugas akan memeriksa kondisi fisik makanan, cara penyimpanan, kebersihan peralatan, hingga potensi penggunaan bahan berbahaya yang dilarang dalam produk pangan.
Beberapa zat kimia seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil kerap menjadi perhatian utama dalam pengawasan makanan. Bahan-bahan tersebut berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka pendek maupun panjang. Oleh karena itu, pengawasan ketat diperlukan agar masyarakat terhindar dari risiko gangguan kesehatan.
Selain pemeriksaan langsung di lapangan, BBPOM juga melakukan pengambilan sampel untuk diuji lebih lanjut di laboratorium. Hasil uji ini menjadi dasar dalam menentukan apakah suatu produk aman untuk dikonsumsi atau perlu ditindaklanjuti.
Edukasi untuk Pedagang dan Konsumen
Pengawasan tidak hanya berorientasi pada penindakan, tetapi juga edukasi. Petugas biasanya memberikan arahan kepada pedagang terkait standar kebersihan, cara pengolahan makanan yang benar, serta penyimpanan bahan baku agar tetap higienis.
Edukasi ini penting karena sebagian besar pedagang takjil merupakan pelaku usaha mikro yang mungkin belum sepenuhnya memahami standar keamanan pangan. Dengan pembinaan yang tepat, diharapkan kualitas produk yang dijual dapat meningkat tanpa harus merugikan pelaku usaha.
Di sisi lain, konsumen juga diimbau lebih selektif dalam memilih makanan berbuka. Masyarakat disarankan memperhatikan warna, aroma, dan tekstur makanan sebelum membeli. Hindari produk dengan warna terlalu mencolok atau bau yang tidak wajar karena bisa menjadi indikasi penggunaan bahan tambahan yang tidak aman.
Antisipasi Lonjakan Penjualan Musiman
Ramadhan selalu membawa dampak ekonomi yang signifikan, khususnya bagi pedagang makanan. Penjualan takjil meningkat drastis karena tingginya kebutuhan masyarakat terhadap makanan praktis untuk berbuka puasa. Momentum ini menjadi peluang besar bagi pelaku usaha kecil untuk meraih keuntungan.
Namun di tengah tingginya permintaan, potensi pelanggaran standar keamanan pangan juga ikut meningkat. Produksi dalam jumlah besar dalam waktu singkat terkadang membuat sebagian pelaku usaha mengabaikan aspek kebersihan demi mengejar target penjualan. Inilah yang menjadi perhatian serius dalam pengawasan kali ini.
Dengan adanya inspeksi rutin, diharapkan pedagang tetap menjaga kualitas dan tidak tergoda menggunakan bahan instan yang berisiko. Pengawasan yang konsisten juga menciptakan efek jera bagi pelaku usaha yang mencoba melanggar aturan.
Peran Masyarakat dalam Pengawasan
Keamanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. Konsumen memiliki peran penting dalam mengawasi peredaran makanan dengan melaporkan temuan produk yang mencurigakan kepada pihak berwenang.
Partisipasi aktif masyarakat dapat memperkuat sistem pengawasan yang sudah ada. Jika ditemukan makanan dengan indikasi tidak layak konsumsi, laporan cepat akan membantu mencegah dampak yang lebih luas.
Selain itu, masyarakat diharapkan tidak tergiur harga murah yang tidak masuk akal. Harga yang terlalu rendah sering kali menjadi indikator adanya pengurangan kualitas bahan atau penggunaan bahan tambahan yang tidak sesuai standar.
Komitmen Menjaga Kesehatan Publik
Langkah inspeksi yang dilakukan BBPOM Pontianak menunjukkan komitmen dalam melindungi kesehatan publik selama Ramadhan. Momentum bulan suci seharusnya menjadi waktu untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kebersamaan, bukan justru terancam oleh risiko kesehatan akibat makanan yang tidak aman.
Dengan sinergi antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat, diharapkan suasana Ramadhan dapat berlangsung aman dan nyaman. Pedagang tetap memperoleh manfaat ekonomi, sementara konsumen merasa tenang dalam menikmati hidangan berbuka.
Ke depan, pengawasan pangan musiman seperti ini diharapkan semakin sistematis dan menyeluruh. Tidak hanya saat Ramadhan, tetapi juga pada momen lain yang memicu peningkatan konsumsi masyarakat. Pada akhirnya, keamanan pangan adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan dan kualitas hidup warga Pontianak.

Cek Juga Artikel Dari Platform podiumnews.online
