pontianaknews.web.id Kota Pontianak kembali dihadapkan pada ancaman banjir rob akibat pasang air sungai dan laut yang tinggi. Fenomena ini bukan hal baru bagi masyarakat setempat, terutama mereka yang bermukim di wilayah rendah dan kawasan tepian Sungai Kapuas. Ketinggian pasang yang dapat mencapai dua meter menjadi perhatian serius karena berpotensi meluap ke jalan, pekarangan, hingga ke dalam rumah warga.
Kondisi geografis Pontianak yang berada di dataran rendah serta dipengaruhi sistem pasang surut sungai menjadikan kota ini sangat rentan terhadap genangan. Ketika pasang tinggi terjadi, tekanan air dari sungai dan laut akan mencari celah untuk masuk ke daratan, terutama jika sistem drainase tidak mampu bekerja optimal.
Peran Drainase sebagai Benteng Pertahanan
Drainase menjadi infrastruktur krusial dalam menghadapi banjir rob. Saluran air yang berfungsi baik mampu mengalirkan air secara cepat sehingga genangan tidak bertahan lama. Sebaliknya, drainase yang tersumbat atau tidak memadai justru memperbesar risiko luapan air.
Warga berharap sistem drainase kota benar-benar optimal saat pasang tinggi terjadi. Dengan saluran yang bersih dan lancar, tekanan air dapat ditekan sehingga risiko air masuk ke rumah dapat diminimalkan. Harapan ini mencerminkan kesadaran masyarakat bahwa solusi banjir rob tidak hanya bergantung pada alam, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur.
Kekhawatiran Warga akan Kombinasi Pasang dan Hujan
Kondisi menjadi lebih mengkhawatirkan ketika pasang tinggi terjadi bersamaan dengan hujan deras. Curah hujan yang tinggi menambah volume air di daratan, sementara pasang sungai menghambat aliran air keluar. Kombinasi ini kerap memicu genangan lebih luas dan bertahan lebih lama.
Warga di kawasan rendah mengakui bahwa situasi terburuk biasanya muncul saat hujan turun berjam-jam di tengah pasang tinggi. Air tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga merembes ke rumah, merusak perabotan, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Wilayah Tepi Sungai Paling Terdampak
Masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Kapuas menjadi kelompok yang paling merasakan dampak pasang air. Setiap kenaikan permukaan air sungai langsung berpengaruh pada permukiman di sekitarnya. Rumah-rumah yang berada lebih rendah dari permukaan sungai sangat rentan tergenang.
Selain kawasan tepian sungai, daerah-daerah cekungan di dalam kota juga berpotensi terdampak. Air yang tidak tertampung drainase akan mengalir dan berkumpul di titik-titik rendah, menciptakan genangan yang sulit surut.
Peringatan dari Otoritas Meteorologi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG Kalimantan Barat secara rutin mengeluarkan prakiraan terkait potensi pasang tinggi dan kondisi cuaca. Informasi ini menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Prakiraan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai peringatan dini, tetapi juga sebagai dasar perencanaan langkah antisipatif. Dengan mengetahui potensi pasang dan hujan, berbagai pihak dapat mempersiapkan diri lebih baik, mulai dari pembersihan drainase hingga kesiapan logistik warga.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Banjir rob tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Aktivitas usaha kecil seperti warung, pedagang kaki lima, dan jasa harian sering terganggu ketika air menggenang.
Kerugian ekonomi mungkin terlihat kecil dalam satu kejadian, namun jika terjadi berulang kali, dampaknya menjadi signifikan. Selain itu, biaya perbaikan rumah dan perabotan yang rusak akibat genangan juga menjadi beban tambahan bagi warga.
Risiko Kesehatan yang Mengintai
Genangan air yang bertahan lama meningkatkan risiko kesehatan. Air kotor yang bercampur limbah dapat menjadi sumber penyakit kulit, diare, hingga infeksi lainnya. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak kesehatan ini.
Oleh karena itu, selain perbaikan infrastruktur, edukasi kesehatan dan kebersihan lingkungan juga menjadi aspek penting dalam menghadapi banjir rob.
Upaya Pemerintah dan Partisipasi Warga
Pemerintah daerah terus berupaya memperbaiki dan meningkatkan sistem drainase kota. Normalisasi saluran, pembersihan rutin, serta pembangunan drainase baru di kawasan rawan menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Namun, upaya ini tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat. Kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga saluran air di lingkungan sekitar sangat berperan dalam menjaga fungsi drainase.
Adaptasi sebagai Kunci Ketahanan
Selain mengandalkan infrastruktur, adaptasi masyarakat juga menjadi kunci ketahanan menghadapi banjir rob. Beberapa warga telah meninggikan lantai rumah, membuat saluran air tambahan, atau menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi pasang surut.
Adaptasi ini menunjukkan bahwa masyarakat Pontianak tidak pasif menghadapi ancaman alam. Namun, adaptasi mandiri tetap perlu didukung kebijakan dan perencanaan kota yang berorientasi jangka panjang.
Harapan akan Penanganan Terintegrasi
Ke depan, penanganan banjir rob di Pontianak diharapkan dilakukan secara lebih terintegrasi. Sinergi antara pemerintah, lembaga teknis, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko.
Optimalisasi drainase, pemantauan pasang surut, serta edukasi publik harus berjalan seiring. Dengan pendekatan ini, kota dapat lebih siap menghadapi ancaman pasang tinggi dan hujan ekstrem.
Kesimpulan
Ancaman pasang tinggi dan hujan menjadikan banjir rob sebagai tantangan nyata bagi Pontianak. Drainase yang berfungsi optimal menjadi benteng utama untuk menahan luapan air agar tidak masuk ke permukiman warga.
Melalui kesiapsiagaan bersama, perbaikan infrastruktur, dan partisipasi aktif masyarakat, dampak banjir rob dapat ditekan. Pontianak diharapkan mampu terus berkembang sebagai kota yang tangguh dan adaptif menghadapi dinamika alam.

Cek Juga Artikel Dari Platform updatecepat.web.id
