pontianaknews.web.id Aksi vandalisme kembali menjadi perhatian publik di Kota Pontianak. Coretan liar yang muncul di sejumlah jalan protokol dan fasilitas umum dinilai merusak estetika kota serta mencoreng wajah ibu kota Kalimantan Barat. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan berbagai pihak, khususnya pelaku dan pemerhati sektor pariwisata.

Salah satu pihak yang menyoroti persoalan tersebut adalah Ketua Asosiasi Pemandu Geoswisata Indonesia Kalimantan Barat, Herfin Yulianto. Ia menilai maraknya vandalisme berpotensi memberikan dampak buruk terhadap citra pariwisata Pontianak yang selama ini terus dibangun.

Coretan Liar di Ruang Publik

Dalam beberapa waktu terakhir, tembok, tiang, hingga fasilitas umum di kawasan strategis kota dipenuhi coretan tidak bertanggung jawab. Aksi tersebut tidak hanya merusak keindahan visual, tetapi juga menimbulkan kesan kurang tertib.

Bagi masyarakat, vandalisme menjadi gangguan kenyamanan ruang publik. Sementara bagi wisatawan, kondisi ini dapat memengaruhi kesan pertama saat berkunjung ke Pontianak.

Ruang kota yang seharusnya bersih dan tertata justru tampak kumuh akibat aksi segelintir oknum.

Sorotan dari Pelaku Pariwisata

Herfin Yulianto menilai vandalisme sangat bertentangan dengan prinsip dasar pengembangan pariwisata nasional. Menurutnya, keindahan dan kebersihan merupakan unsur penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang positif.

Ia mengingatkan bahwa pariwisata tidak hanya soal destinasi, tetapi juga suasana kota yang dirasakan wisatawan.

Ketika kota tampak kotor dan semrawut, kesan negatif akan melekat dan sulit dihilangkan.

Bertentangan dengan Nilai Sapta Pesona

Herfin menegaskan bahwa vandalisme bertolak belakang dengan nilai Sapta Pesona Pariwisata Indonesia, yang mencakup aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan.

Coretan liar di ruang publik secara langsung menghilangkan unsur kebersihan dan keindahan.

Akibatnya, wisatawan tidak mendapatkan pengalaman menyenangkan yang seharusnya mereka rasakan saat berkunjung.

Dampak terhadap Citra Kota

Citra kota menjadi faktor penting dalam sektor pariwisata. Pontianak selama ini dikenal sebagai kota khatulistiwa dengan keunikan budaya dan alamnya.

Namun, vandalisme dapat mengaburkan identitas positif tersebut. Wisatawan cenderung mengingat hal-hal visual yang pertama kali mereka lihat.

Jika yang terlihat adalah coretan liar dan fasilitas rusak, maka citra kota ikut tercoreng.

Ancaman terhadap Pertumbuhan Pariwisata

Pariwisata sangat bergantung pada persepsi. Ketika persepsi publik negatif, minat kunjungan bisa menurun.

Pelaku usaha pariwisata, mulai dari pemandu wisata, hotel, hingga UMKM, berpotensi terdampak secara tidak langsung.

Menurut Herfin, menjaga wajah kota berarti menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata.

Perlunya Kesadaran Kolektif

Persoalan vandalisme tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama pencegahan.

Warga perlu memiliki rasa memiliki terhadap ruang publik. Fasilitas umum adalah aset bersama yang harus dijaga.

Tanpa kesadaran kolektif, upaya penertiban akan terus berulang tanpa solusi jangka panjang.

Peran Edukasi dan Pembinaan

Herfin mendorong adanya edukasi yang lebih masif kepada generasi muda mengenai dampak vandalisme. Banyak pelaku vandalisme yang belum memahami konsekuensi perbuatannya.

Edukasi bisa dilakukan melalui sekolah, komunitas, hingga kampanye kreatif yang melibatkan anak muda.

Pendekatan persuasif dinilai lebih efektif dibanding sekadar penindakan.

Penegakan Aturan yang Konsisten

Selain edukasi, penegakan aturan juga dinilai penting. Tanpa sanksi yang tegas dan konsisten, vandalisme akan terus terjadi.

Herfin berharap pemerintah daerah bersama aparat dapat meningkatkan pengawasan di titik-titik rawan.

Penerapan sanksi diharapkan memberikan efek jera dan menumbuhkan kedisiplinan.

Ruang Ekspresi yang Terarah

Sebagian kalangan menilai vandalisme kerap muncul karena kurangnya ruang ekspresi. Oleh karena itu, penyediaan ruang seni yang legal dapat menjadi solusi alternatif.

Mural yang terkurasi dengan baik justru dapat mempercantik kota dan menjadi daya tarik wisata.

Dengan pengelolaan yang tepat, kreativitas anak muda dapat diarahkan secara positif.

Kolaborasi Semua Pihak

Penanganan vandalisme membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, komunitas, pelaku pariwisata, dan masyarakat perlu duduk bersama mencari solusi.

Kampanye menjaga kota bisa dikemas secara kreatif agar mudah diterima publik.

Semangat gotong royong menjadi kunci menciptakan lingkungan kota yang bersih dan nyaman.

Menjaga Wajah Pontianak ke Depan

Pontianak memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata perkotaan. Keunikan budaya, kuliner, dan letak geografis menjadi kekuatan tersendiri.

Namun, potensi tersebut perlu didukung oleh lingkungan kota yang tertata dan terjaga.

Vandalisme menjadi tantangan yang harus segera diatasi agar pembangunan pariwisata tidak terhambat.

Penutup

Maraknya aksi vandalisme di Pontianak menjadi peringatan penting bagi semua pihak. Coretan liar bukan sekadar masalah estetika, tetapi berdampak langsung pada citra kota dan sektor pariwisata.

Sorotan dari Herfin Yulianto mencerminkan kekhawatiran pelaku pariwisata terhadap masa depan wajah kota. Dengan kesadaran bersama, edukasi berkelanjutan, serta penegakan aturan yang konsisten, Pontianak diharapkan mampu menjaga keindahan kotanya dan menghadirkan pengalaman wisata yang positif bagi setiap pengunjung.

Cek Juga Artikel Dari Platform bengkelpintar.org