Olahraga Lari Tidak Disarankan untuk Orang dengan Obesitas, Ini Penjelasan Dokter
Olahraga lari sering dianggap sebagai cara paling mudah, murah, dan efektif untuk menurunkan berat badan. Banyak orang percaya bahwa semakin cepat dan sering berlari, maka semakin besar pula pembakaran kalori yang terjadi. Namun, anggapan ini tidak selalu tepat, terutama bagi orang dengan obesitas.
Bagi individu dengan berat badan berlebih, olahraga lari justru dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan bila dilakukan tanpa persiapan dan pertimbangan medis yang matang. Alih-alih memberikan manfaat, lari berpotensi memicu cedera, gangguan sendi, hingga masalah jantung. Karena itu, para dokter dan ahli kesehatan menyarankan agar orang dengan obesitas tidak langsung menjadikan lari sebagai pilihan utama olahraga.
Melansir informasi medis dari KlikDokter, berikut penjelasan medis mengapa lari tidak disarankan untuk orang dengan obesitas.
Tekanan Berlebih pada Sendi
Pada orang dengan obesitas, berat badan berlebih memberikan tekanan ekstra pada sistem rangka dan sendi. Lutut, pinggul, dan pergelangan kaki menjadi bagian tubuh yang paling terdampak.
Saat berlari, beban yang diterima sendi bisa mencapai dua hingga tiga kali berat badan setiap kali kaki menghantam permukaan. Pada kondisi obesitas, tekanan ini meningkat drastis sehingga memperbesar risiko nyeri sendi, peradangan, cedera ligamen, hingga kerusakan tulang rawan.
Dalam jangka panjang, kebiasaan berlari tanpa penyesuaian dapat mempercepat terjadinya osteoartritis, terutama pada lutut. Inilah alasan utama mengapa dokter sering menyarankan olahraga berdampak rendah bagi orang dengan obesitas.
Risiko Cedera yang Lebih Tinggi
Lari termasuk olahraga high impact atau berdampak tinggi. Setiap langkah melibatkan hentakan yang kuat antara kaki dan permukaan tanah. Pada orang dengan obesitas, hentakan ini memberi tekanan berlebih pada otot, tendon, dan tulang.
Beberapa cedera yang lebih sering terjadi antara lain:
- Shin splints (nyeri tulang kering)
- Tendinitis Achilles
- Plantar fasciitis
- Fraktur stres pada tulang kaki
Cedera ini tidak hanya menimbulkan rasa nyeri, tetapi juga dapat memaksa seseorang berhenti berolahraga dalam waktu lama, sehingga justru menghambat proses penurunan berat badan.
Kondisi Jantung dan Pernapasan
Obesitas sering berkaitan dengan kondisi kardiovaskular yang belum optimal, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan kapasitas paru-paru yang terbatas. Saat dipaksa berlari, jantung dan paru-paru harus bekerja jauh lebih keras dibandingkan orang dengan berat badan normal.
Akibatnya, orang dengan obesitas lebih rentan mengalami:
- Kelelahan berlebihan
- Sesak napas
- Pusing
- Denyut jantung tidak teratur
Dalam kondisi tertentu, olahraga berat seperti lari bahkan dapat meningkatkan risiko gangguan jantung jika dilakukan tanpa evaluasi medis terlebih dahulu.
Masalah Kulit Akibat Gesekan
Selain sendi dan jantung, masalah kulit juga menjadi perhatian penting. Pada orang dengan obesitas, lipatan tubuh lebih banyak sehingga gesekan saat bergerak menjadi lebih intens.
Saat berlari, gesekan berulang di area paha, ketiak, selangkangan, atau bawah payudara dapat menyebabkan chafing, yaitu iritasi kulit yang menimbulkan rasa perih dan nyeri. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi luka terbuka dan meningkatkan risiko infeksi kulit.
Masalah ini sering kali membuat aktivitas lari terasa tidak nyaman dan menyakitkan, sehingga menurunkan keinginan untuk berolahraga secara konsisten.
Tekanan Psikologis dan Rasa Tidak Percaya Diri
Faktor psikologis juga berperan besar. Tidak semua orang merasa nyaman berlari di ruang publik. Pada orang dengan obesitas, rasa khawatir terhadap penampilan, tatapan orang lain, atau stigma sosial dapat menimbulkan tekanan mental.
Tekanan psikologis ini bisa memicu:
- Rasa malu dan cemas
- Hilangnya motivasi berolahraga
- Keengganan untuk memulai kembali aktivitas fisik
Jika olahraga justru menimbulkan stres, maka manfaat kesehatannya akan berkurang. Padahal, konsistensi dan kenyamanan adalah kunci keberhasilan penurunan berat badan.
Alternatif Olahraga yang Lebih Aman untuk Obesitas
Dokter umumnya menyarankan olahraga low impact atau berdampak rendah bagi orang dengan obesitas. Jenis olahraga ini tetap efektif membakar kalori, tetapi lebih ramah terhadap sendi dan jantung.
Beberapa pilihan olahraga yang dianjurkan antara lain:
- Jalan kaki dengan intensitas sedang
- Bersepeda statis atau luar ruangan
- Berenang atau aqua aerobik
- Senam ringan
- Yoga atau pilates khusus pemula
Olahraga-olahraga tersebut membantu meningkatkan kebugaran secara bertahap tanpa memberi tekanan berlebih pada tubuh.
Kapan Orang dengan Obesitas Boleh Mulai Lari?
Lari bukan sepenuhnya dilarang, tetapi perlu dilakukan secara bertahap dan terencana. Setelah berat badan menurun, otot menguat, dan kondisi jantung membaik, sebagian orang dengan obesitas dapat mulai mencoba lari ringan.
Biasanya, dokter menyarankan:
- Memulai dari jalan cepat
- Mengombinasikan jalan dan lari singkat
- Menggunakan alas kaki yang tepat
- Berlari di permukaan yang empuk
- Menghentikan aktivitas jika muncul nyeri
Konsultasi dengan dokter atau tenaga medis sangat dianjurkan sebelum memulai program lari.
Penutup
Meski populer sebagai olahraga penurun berat badan, lari tidak selalu menjadi pilihan terbaik bagi orang dengan obesitas. Risiko cedera sendi, gangguan jantung, masalah kulit, hingga tekanan psikologis perlu dipertimbangkan dengan serius.
Pendekatan yang lebih aman adalah memilih olahraga berdampak rendah, dilakukan secara konsisten, dan disesuaikan dengan kondisi tubuh. Dengan strategi yang tepat dan bertahap, penurunan berat badan tetap bisa dicapai tanpa mengorbankan kesehatan.
Ingat, olahraga terbaik bukan yang paling berat, melainkan yang paling aman dan bisa dilakukan secara berkelanjutan.
Baca Juga : Investasi Kripto untuk Pemula: Fakta dan Risikonya
Cek Juga Artikel Dari Platform : koronovirus

