Mengawali tahun 2026 dengan suasana santai dan penuh kehangatan, Ustadz Luqmanul Hakim terlihat menikmati durian Jemongko bersama Abi Een di kawasan Jalan Letkol Sugiono, Kamis malam. Momen sederhana tersebut mencerminkan cara menikmati pergantian tahun yang jauh dari hiruk-pikuk seremoni, namun sarat makna kebersamaan.

Pontianak memang dikenal sebagai salah satu kota dengan tradisi kuliner durian yang kuat. Setiap musim durian tiba, sejumlah kawasan berubah menjadi ruang berkumpul masyarakat lintas usia dan latar belakang. Jalan Letkol Sugiono menjadi salah satu titik favorit, khususnya bagi pencinta durian lokal yang ingin menikmati varietas unggulan dengan suasana terbuka dan nyaman.

Durian Jemongko, Ikon Rasa Legit Pontianak

Durian Jemongko yang dijajakan di kawasan ini telah lama memiliki reputasi tersendiri. Tekstur dagingnya tebal, warnanya cenderung kuning keemasan, dengan rasa legit yang kuat dan aroma khas namun tidak menyengat. Karakter inilah yang membuat Jemongko digemari banyak kalangan, baik penikmat durian pemula maupun pencinta durian fanatik.

Bagi masyarakat Pontianak, menikmati durian bukan sekadar soal rasa, melainkan juga pengalaman sosial. Durian sering dinikmati secara beramai-ramai, dibuka di tempat, lalu disantap sambil berbincang. Tradisi ini menjadikan lapak durian sebagai ruang interaksi sosial yang hidup, terutama pada malam hari.

Memasuki awal tahun, suasana di Jalan Letkol Sugiono terpantau semakin ramai. Banyak warga memilih menghabiskan waktu bersama keluarga atau sahabat, duduk santai di bangku-bangku sederhana, sambil menikmati durian dan percakapan hangat. Kehadiran figur publik seperti Ustadz Luqmanul Hakim dan Abi Een semakin menegaskan daya tarik kawasan ini sebagai tempat yang inklusif dan ramah untuk semua kalangan.

Momen Santai Figur Keumatan

Ustadz Luqmanul Hakim dikenal luas sebagai pendakwah yang aktif menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan. Selain berdakwah di mimbar, ia juga kerap hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan sosial dan keumatan. Kehadirannya di lapak durian malam itu memperlihatkan sisi keseharian seorang tokoh agama yang membumi dan dekat dengan masyarakat.

Sementara itu, Abi Een juga dikenal sebagai figur yang memiliki kedekatan dengan warga Pontianak, khususnya dalam aktivitas keagamaan dan sosial. Kebersamaan keduanya di ruang publik seperti ini memberi pesan sederhana namun kuat: bahwa kebersamaan, kesederhanaan, dan menikmati rezeki alam adalah bagian dari kehidupan yang patut disyukuri.

Tanpa pengawalan khusus atau suasana eksklusif, keduanya menikmati durian layaknya pengunjung lain. Tidak ada kesan terburu-buru, justru obrolan santai menjadi bagian utama dari momen tersebut. Inilah yang membuat suasana lapak durian di Jalan Letkol Sugiono terasa hangat dan egaliter.

Kenyamanan Lokasi Jadi Daya Tarik

Selain kualitas durian, faktor kenyamanan lokasi menjadi alasan utama kawasan ini digemari. Area durian di Jalan Letkol Sugiono memiliki tata letak yang cukup rapi, dengan lapak-lapak berjajar dan ruang duduk yang memadai. Pengunjung dapat memilih durian langsung dari lapak, lalu menikmatinya di tempat tanpa tekanan waktu.

Suasana terbuka membuat angin malam Pontianak terasa sejuk, meski pengunjung cukup ramai. Pencahayaan yang memadai juga menambah rasa aman dan nyaman, terutama bagi keluarga yang datang bersama anak-anak. Tidak heran jika kawasan ini kerap menjadi pilihan untuk bersantai setelah seharian beraktivitas.

Bagi sebagian pengunjung, menikmati durian di tempat terbuka seperti ini juga memberikan pengalaman berbeda dibandingkan menyantapnya di rumah. Ada sensasi kebersamaan, aroma durian yang bercampur dengan udara malam, serta percakapan antar meja yang saling bersahutan, menciptakan atmosfer khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Awal Tahun dengan Kesederhanaan

Momen menikmati durian Jemongko di awal tahun 2026 ini menjadi gambaran bahwa pergantian tahun tidak selalu harus dirayakan dengan kemewahan atau pesta besar. Kesederhanaan justru menghadirkan makna yang lebih dalam, terutama ketika diisi dengan kebersamaan dan rasa syukur.

Pontianak, dengan kekayaan kuliner lokalnya, menyediakan ruang-ruang seperti Jalan Letkol Sugiono yang memungkinkan masyarakat untuk merayakan momen penting dengan cara yang santai dan membumi. Kehadiran tokoh-tokoh masyarakat di ruang publik ini memperkuat rasa kedekatan antara figur publik dan warga.

Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana. Sepotong durian Jemongko, obrolan hangat, dan suasana malam Pontianak menjadi cara yang elegan untuk menyambut tahun baru dengan hati yang tenang.

Baca juga : Mulai Tahun Baru, Wujudkan Motor Impian Bersama BRI Finance

Jangan Lewatkan Info Penting Dari : beritajalan