Aparat kepolisian kembali menggagalkan potensi aksi tawuran remaja di Kota Pontianak. Sebanyak 27 anak di bawah umur diamankan Tim Enggang Polsek Pontianak Barat saat menggelar kegiatan Patroli Malam Minggu Aman, Minggu (28/12/2025) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Para remaja tersebut diduga hendak terlibat dalam aksi tawuran yang berpotensi membahayakan keselamatan diri sendiri maupun masyarakat sekitar.
Langkah cepat aparat ini mendapat perhatian publik, mengingat maraknya fenomena tawuran remaja di sejumlah daerah yang kerap dipicu oleh pertemanan sebaya, provokasi media sosial, hingga minimnya pengawasan orang tua, terutama saat musim libur sekolah.
Patroli Rutin untuk Menjaga Keamanan Malam Hari
Patroli Malam Minggu Aman merupakan kegiatan rutin yang dilakukan Polsek Pontianak Barat guna mengantisipasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya pada malam hingga dini hari. Waktu tersebut dinilai rawan karena sering dimanfaatkan oleh kelompok remaja untuk berkumpul tanpa tujuan jelas, yang berpotensi berujung pada tindakan melanggar hukum.
Saat dikonfirmasi, Kapolsek Pontianak Barat AKP Basuki melalui Kanit Reskrim Alvon Oktobertus membenarkan adanya pengamanan terhadap puluhan remaja tersebut.
“Iya benar, pada saat menggelar patroli malam minggu aman, kami mengamankan sebanyak 27 anak remaja yang masih di bawah umur di Jalan Tebu, Pontianak Barat,” ujar Ipda Alvon Oktobertus, Senin (29/12/2025).
Berawal dari Bonceng Tiga yang Mencurigakan
Menurut Alvon, pengamanan tersebut bermula ketika petugas patroli mendapati sejumlah remaja yang berboncengan tiga menggunakan sepeda motor. Aksi tersebut dinilai melanggar aturan lalu lintas sekaligus mencurigakan, sehingga anggota langsung melakukan pengejaran untuk memastikan situasi.
“Saat itu anggota menemukan sejumlah anak yang sedang berbonceng tiga. Karena mencurigakan, dilakukan pengejaran. Mereka kemudian menuju ke sejumlah rumah yang berada di Jalan Tebu,” jelasnya.
Setelah ditelusuri, petugas mendapati sebuah rumah yang ternyata telah dipenuhi oleh puluhan remaja di bawah umur. Kondisi tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa para remaja tersebut sedang berkumpul untuk tujuan yang tidak wajar pada dini hari.
27 Remaja Diamankan di Satu Lokasi
Sekitar pukul 02.00 WIB, para remaja tersebut tiba di rumah yang menjadi titik kumpul. Di lokasi itu, aparat kepolisian langsung melakukan pengamanan secara persuasif.
“Di rumah tersebut ramai remaja-remaja di bawah umur. Anggota langsung melakukan pengamanan terhadap mereka semua. Total ada 27 orang yang kami amankan,” ungkap Alvon.
Proses pengamanan dilakukan tanpa perlawanan. Petugas juga berkoordinasi dengan masyarakat setempat agar situasi tetap kondusif dan tidak menimbulkan keresahan.
Ditemukan Tiga Senjata Tajam
Yang paling mengkhawatirkan, dari hasil penyisiran lokasi, petugas menemukan tiga senjata tajam dengan jenis berbeda. Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa para remaja tersebut berpotensi terlibat dalam aksi tawuran.
“Saat penyisiran lokasi yang juga dibantu masyarakat, anggota menemukan parang panjang, celurit, dan mandau. Ketiganya langsung kami amankan ke Mapolsek,” tambah Alvon.
Keberadaan senjata tajam di tangan anak-anak di bawah umur dinilai sangat berbahaya. Selain berisiko menimbulkan korban luka bahkan meninggal, penggunaan senjata tajam juga dapat menyeret para remaja ke proses hukum yang lebih serius.
Pendekatan Pembinaan dan Perlindungan Anak
Meski menemukan indikasi kuat potensi tawuran, Polsek Pontianak Barat memilih mengedepankan pendekatan pembinaan dan perlindungan anak. Seluruh orang tua atau wali dari 27 remaja tersebut langsung dipanggil ke Mapolsek untuk diberikan penjelasan dan pendampingan.
“Kami juga bekerja sama dengan pihak yang menangani anak-anak yang berhadapan dengan hukum, yaitu KPAD Kota Pontianak, untuk memberikan asesmen dan pendampingan kepada anak-anak tersebut,” terangnya.
Pendekatan ini dilakukan agar para remaja tidak mengalami trauma, sekaligus memberikan pemahaman tentang bahaya tawuran dan konsekuensi hukum yang dapat timbul dari perbuatan tersebut.
Remaja Dikembalikan ke Orang Tua
Setelah dilakukan pendataan, pemeriksaan, serta pembinaan awal, seluruh remaja yang diamankan akhirnya dikembalikan kepada orang tua atau wali masing-masing. Namun demikian, polisi tetap memberikan sanksi tegas terhadap pelanggaran yang ditemukan, khususnya terkait kendaraan bermotor.
“Sudah kami kembalikan kepada orang tua atau wali masing-masing. Untuk kendaraan, kami memberikan sanksi penilangan terhadap 15 kendaraan yang tidak memenuhi standar,” kata Alvon.
Langkah ini diambil sebagai bentuk edukasi agar anak-anak dan orang tua lebih memperhatikan aspek keselamatan berkendara serta kepatuhan terhadap aturan lalu lintas.
Imbauan Keras untuk Orang Tua
Polsek Pontianak Barat juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas anak, terutama di malam hari dan selama musim libur sekolah. Minimnya pengawasan dinilai menjadi salah satu faktor utama yang membuat remaja rentan terlibat dalam pergaulan negatif.
“Kami mengimbau kepada orang tua agar selalu memberikan pengawasan dan kontrol terhadap anak-anaknya. Jangan sampai anak-anak berkeliaran hingga dini hari tanpa tujuan jelas, karena bisa berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan,” tegas Alvon.
Ia menambahkan bahwa kepolisian tidak dapat bekerja sendiri dalam mencegah kenakalan remaja. Diperlukan kerja sama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan aparat penegak hukum.
Tawuran Remaja, Masalah Sosial yang Harus Dicegah Bersama
Fenomena tawuran remaja bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga masalah sosial yang kompleks. Faktor lingkungan, pergaulan, media sosial, hingga kurangnya ruang ekspresi positif bagi anak muda sering kali menjadi pemicu utama.
Dengan digagalkannya potensi tawuran ini, Polsek Pontianak Barat berharap dapat mencegah jatuhnya korban dan menciptakan rasa aman di tengah masyarakat. Polisi juga berkomitmen untuk terus meningkatkan patroli rutin, terutama pada jam-jam rawan.
“Kami akan terus melakukan patroli dan langkah pencegahan lainnya demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Keselamatan anak-anak kita adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Alvon.
Upaya cepat dan terukur yang dilakukan aparat ini diharapkan menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa pencegahan lebih baik daripada penindakan. Dengan pengawasan yang kuat, komunikasi yang baik dalam keluarga, serta dukungan lingkungan yang positif, potensi tawuran remaja dapat ditekan sejak dini.
Baca Juga : Cafe Indigo Pontianak Resmi Dibuka, Dorong Ekonomi Kreatif
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : georgegordonfirstnation

