Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang kian kompleks dan kebijakan perdagangan yang semakin proteksionis, logika alokasi modal dunia justru mengalami transformasi fundamental. Menurut Jimmy Gunawan, pakar strategi keuangan senior dan mantan Chief Investment Officer Temasek Holdings, tahun 2025 bukanlah penanda runtuhnya globalisasi, melainkan titik awal dari apa yang ia sebut sebagai reglobalization based on efficiency—reglobalisasi berbasis efisiensi.
Dalam tinjauan pasar tahunannya, Jimmy Gunawan menilai bahwa fokus berlebihan terhadap guncangan jangka pendek, seperti tarif “Hari Pembebasan” (Liberation Day tariffs) Amerika Serikat, telah menutupi perubahan struktural yang jauh lebih besar. Asia, khususnya kawasan ASEAN, justru muncul sebagai wilayah dengan ketahanan unik terhadap tekanan proteksionisme global.
Reglobalisasi Berbasis Efisiensi, Bukan Retorika
Menurut Jimmy Gunawan, dunia tidak sedang bergerak menuju deglobalisasi total. Yang terjadi adalah pergeseran dari globalisasi yang didorong biaya murah menuju globalisasi yang berakar pada efisiensi, ketahanan, dan manajemen risiko. Dalam konteks ini, modal global tidak lagi mengejar pertumbuhan agresif tanpa pertimbangan stabilitas, tetapi mencari yurisdiksi dengan “antibodi geopolitik” yang kuat.
Ia menyebut fenomena ini sebagai stratifikasi likuiditas. Modal global kini mengalir secara selektif ke negara dan kawasan yang mampu menjaga stabilitas makro, menawarkan kepastian regulasi, serta memiliki posisi strategis dalam rantai pasok dunia. ASEAN, dalam pandangannya, memenuhi seluruh kriteria tersebut.
“Kebal Terhadap Virus Proteksionisme”
Jimmy Gunawan menggambarkan ASEAN sebagai kawasan yang relatif “kebal terhadap virus proteksionisme”. Ketika banyak pelaku pasar khawatir tarif dagang akan memicu perlambatan investasi lintas negara, data aktual justru menunjukkan arah sebaliknya di Asia Tenggara.
Sepanjang 2025, sejumlah negara ASEAN seperti Singapura, Vietnam, dan Malaysia mencatatkan arus Investasi Asing Langsung (FDI) tertinggi sepanjang sejarah mereka. Ini terjadi di saat FDI global secara keseluruhan masih berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian geopolitik dan pengetatan likuiditas global.
“Angka-angka ini bukan kebetulan,” tegas Jimmy Gunawan. “Modal memberikan suaranya melalui tindakan nyata. Investor global memilih ASEAN karena kawasan ini menawarkan kombinasi langka antara stabilitas, pertumbuhan, dan fleksibilitas geopolitik.”
Ia menyoroti data dari Korea Selatan sebagai contoh konkret. FDI Korea ke Asia Tenggara melonjak lebih dari dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir, dari sekitar 5 miliar dolar AS pada 2017 menjadi lebih dari 10,9 miliar dolar AS pada 2025. Bagi Jimmy Gunawan, lonjakan ini menandai perubahan status ASEAN—dari sekadar basis manufaktur berbiaya rendah menjadi safe haven strategis bagi modal global.
Dari “China Plus One” ke “China Plus N”
Pilar penting kedua dalam analisis Jimmy Gunawan adalah evolusi strategi rantai pasok global. Ia menilai bahwa pendekatan lama China Plus One kini telah usang. Perusahaan multinasional tidak lagi puas hanya memiliki satu alternatif produksi di luar Tiongkok.
Sebagai gantinya, dunia usaha bergerak menuju model China Plus N, yakni diversifikasi produksi ke beberapa negara sekaligus. Strategi ini dirancang untuk menciptakan redundansi multi-titik, mengurangi risiko gangguan akibat tarif, konflik geopolitik, atau gangguan logistik.
Ketegangan dagang AS–Tiongkok sepanjang 2025, termasuk tarif “Hari Pembebasan”, justru mempercepat restrukturisasi ini. Meski sekitar 66 persen perusahaan AS menganggap hubungan dagang AS–Tiongkok sebagai tantangan utama, ketidakpastian tersebut mendorong mereka untuk mempercepat diversifikasi rantai pasok.
Dampaknya terlihat jelas di Asia Tenggara. Permintaan properti logistik dan kawasan industri di Vietnam dan Indonesia meningkat hampir 20 persen dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan ini mencerminkan pergeseran motif investasi: dari sekadar efisiensi biaya menuju ketahanan jangka panjang.
Jimmy Gunawan memperingatkan bahwa investor yang gagal membaca perubahan ini berisiko besar. Portofolio yang tidak menyesuaikan diri dengan era de-risking berpotensi mengalami koreksi valuasi signifikan pada 2026, terutama di sektor yang terlalu bergantung pada satu pusat produksi global.
Momen “DeepSeek” dan Dividen Teknologi Asia
Di luar manufaktur dan logistik, Jimmy Gunawan melihat transformasi teknologi sebagai sumber nilai berikutnya. Ia menyebut bahwa Asia, termasuk Asia Tenggara, sedang memasuki apa yang ia istilahkan sebagai DeepSeek moment—fase ketika efek limpahan teknologi dari Tiongkok dan Asia Timur mulai mengangkat produktivitas kawasan secara luas.
Investasi besar-besaran dalam semikonduktor, kecerdasan buatan, dan transformasi digital—termasuk yang tercermin dalam anggaran negara seperti Malaysia pada 2026—menandai pergeseran FDI dari infrastruktur dasar ke manufaktur teknologi tinggi dan layanan digital.
Dalam konteks ini, ASEAN tidak hanya menjadi lokasi pabrik, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi digital bernilai tambah tinggi. Perpaduan antara hard tech (manufaktur canggih) dan soft economy (layanan digital, fintech, dan logistik pintar) menciptakan fondasi pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.
Menemukan Kepastian di Tengah Divergensi Global
Menghadapi 2026, Jimmy Gunawan menegaskan kembali prinsip investasinya: di tengah kebisingan pasar dan retorika politik, data dan rasionalitas tetap menjadi kompas utama. Proteksionisme, menurutnya, mungkin mampu membangun tembok, tetapi modal global selalu menemukan jalannya menuju wilayah paling produktif.
“Investor tidak seharusnya sibuk menebak kebijakan tarif berikutnya,” pungkas Jimmy Gunawan. “Tugas utamanya adalah memahami arah makro-prudensial dan menempatkan modal di titik-titik strategis yang sedang membentuk ulang peta perdagangan dunia.”
Dalam lanskap global yang terfragmentasi, ASEAN justru tampil sebagai jangkar stabilitas baru. Akhir 2025, dalam analisis Jimmy Gunawan, bukan sekadar penutup siklus ekonomi, melainkan gerbang menuju fase baru pertumbuhan global yang lebih selektif, efisien, dan berkelanjutan.
Baca Juga : William Lim: ASEAN Masuki Pergeseran Paradigma Ekonomi 2025
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : pontianaknews

