Pantun Masuk Era Digital
Warisan budaya tak benda berupa pantun kini hadir dalam wajah baru. Melalui inovasi teknologi, aplikasi Pantunin AI membawa sastra lisan ke era digital yang lebih interaktif.
Aplikasi ini resmi tersedia di Google Play Store dan menjadi salah satu terobosan dalam pelestarian budaya berbasis teknologi.
Karya Anak Pontianak
Pantunin AI merupakan karya dari Yaser Syaifudin, seorang penggiat digital asal Pontianak. Melalui platform ini, ia ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap pantun.
Menurutnya, pantun tidak harus sulit atau kaku, melainkan bisa dinikmati dengan cara yang lebih modern dan mudah diakses.
Teknologi dengan Sentuhan Budaya
Keunggulan utama Pantunin AI terletak pada kemampuannya merangkai pantun secara instan. Namun demikian, sistem tetap mengikuti kaidah rima dan struktur sastra Melayu yang baku.
Menariknya, pengembangan algoritma aplikasi ini juga melibatkan Agus Muare agar hasilnya tetap memiliki nilai budaya dan adab.
AI sebagai Asisten Kreatif
Pantunin AI dirancang sebagai “asisten kreatif” bagi pengguna. Dengan memasukkan kata kunci, pengguna dapat menghasilkan pantun yang sesuai tanpa perlu khawatir salah rima.
Dengan demikian, siapa pun kini dapat berpantun dengan mudah, bahkan tanpa latar belakang sastra sekalipun.
Jembatan Generasi Muda
Aplikasi ini juga menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal pantun. Terutama bagi generasi Z dan Alpha, pendekatan digital dinilai lebih relevan dan menarik.
Selain itu, pantun kini bisa hadir di berbagai platform seperti WhatsApp hingga TikTok, menjadikannya lebih hidup di ruang digital.
Dukungan dari Berbagai Pihak
Inovasi ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya dari Balai Pustaka melalui Direktur Utamanya, Achmad Fachrodji.
Dukungan juga datang dari Ismail Fahmi yang menilai pentingnya konsistensi narasi di media sosial untuk memperkuat popularitas pantun.
Potensi Besar dari Daerah
Pantunin AI menjadi bukti bahwa inovasi digital tidak hanya lahir dari kota besar. Sebaliknya, daerah seperti Pontianak juga mampu melahirkan karya berkelas global.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan budaya lokal dapat menjadi fondasi inovasi yang kuat.
Masa Depan Pantun di Era Digital
Ke depan, Pantunin AI akan terus dikembangkan dengan fitur komunitas dan kurasi pantun. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem digital yang mendukung pelestarian budaya.
Pada akhirnya, Pantunin AI bukan sekadar aplikasi, tetapi gerakan untuk menjaga marwah pantun sebagai identitas budaya Nusantara di era modern.
Baca Juga : Menko Polkam Tinjau Sekolah Rakyat Pontianak
Cek Juga Artikel Dari Platform : pestanada

